Selamat Datang di Blog Abdul Alim Yamin

Jumat, 28 November 2008

Penggunaan Antibiotik dalam Ransum Broiler

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DALAM RANSUM BROILER UNTUK MERANGSANG PERTUMBUHAN

Abdul Alim Yamin
Mahasiswa Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Univrsitas Hasanuddin Makassar

PENDAHULUAN

Peternakan saat ini merupakan industri yang sangat berkembang pesat di Indonesia, hal tersebut disebabkan oleh konsumsi masyarakat akan protein telah mengalami pergeseran dari protein nabati ke protein hewani, akan tetapi daya beli masyarakat masih terbatas pada telur dan daging khususnya daging ayam sehingga daging ayam merupakan sumber protein altematif bagi masyarakat pada umumnya. Untuk memeperbaiki kualitas dari ternak (broiler) maka hal yang paling urgen dalam pemeliharaan adalah efisiensi penggunaan pakan.
Penggunaan antibiotik sebagai feed additive merupakan faktor yang dapat menentukan efisiensi pemeliharaan ayam broiler sehingga bahan tersebut sangat dibutuhkan dalam ransum broiler. Feed additive yang sering digunakan adalah antibiotik, yang berfungsi dalam membantu proses penyerapan zat-zat nutrisi sehingga dapat berpengaruh pada performans broiler. Penggunaan antibiotik sebagai feed additive pada pakan broiler telah berlangsung secara luas sejak tahun 1950 an, yang fungsi utamanya adalah untuk mengendalikan penyakit, merangsang pertumbuhan dan meningkatkan konversi pakan (Waldroup et al., 2003).
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti jamur yang memiliki kemampuan dalam menekan mikrorganisme lain penyebab penyakit di dalam tubuh ternak. Setelah diketahui rumus kimia dari antibiotik maka senyawa tersebut tidak lagi dihasilkan dari mikroorganisme, tetapi dapat dibuat secara sintetik. Olehnya itu, antibiotik selain digunakan sebagai pengobatan, juga digunakan dalam ransum sebagai inibuhan pakan. Fungsi utama antibiotik di dalam pakan unggas sebagai growth promoter atau pemicu pertumbuban ternak, mengendalikan infeksi dari bakteri sehingga dapat membantu dalam memperbaiki penampilan suatu ternak utamanya terbebas dari infeksi penyakit yang dapat mendatangkan kerugian bagi suatu peternakan. Pada akhir-akhir ini pelarangan antibiotik pada pakan ternak tidak dibolehkan, disebabkan oleh adanya residu dan menyebabkan resistensi bakteri khususnya di luar negeri. Akan tetapi, beberapa antibiotik yang aman digunakan tidak menimbulkan resistensi bakteri (kuman) diantamya flavomycin, virginiamycin, dan zinc bacitracin.
Tujuan penggunaan antibiotik sebagai feed additive dapat memperbaiki efisiensi penggunaan pakan pada broiler dan menekan bakteri patogen di dalam saluran pencernaan serta diharapkan tidak menimbulkan residu dan resistensi pada broiler.

Gambaran Umum Antibiotik

Antibiotik adalah produk sekresi mikroorganisme atau substansi kimiawi sintesis yang menghambat perkembangbiakan atau dapat menyebabkan kematiannya. Menurut Subronto (2008) bahwa antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh berbagai jasad renik kuman, jamur, dan aktinomiset. Antibiotik memiliki khasiat menghentikan pertumbuhan atau membunuh jasad renik lainnya. Dengan telah diketahuinya rumus kimia berbagai macam antibiotika, senyawa tersebut telah dapat dibuat secara sintetik.
Antibiotik digunakan untuk melawan infeksi dengan cara pencegahan atau pengobatan. Antibiotik diberikan sejumlah 2 sampai 10 gram per ton ransum, merangsang pertumbuhan anak ayam yang dipelihara dalam lingkungan yang tidak bebas hama. Karena zat tersebut merangsang pertumbuhan dan memperbaiki produksi telur dalam keadaan stress, maka zat tersebut membantu dalam pengambilan makanan yang efisien. Antibiotik harus digunakan sesuai dengan petunjuk pabrik yang memproduksinya (Anonim, 2008a). Menurut hasil penelitian Waldroup et al., (2003), bahwa perlakuan pemberian antibiotik pada broiler menunjukkan peningkatan yang signifikan konversi pakan (kg feed:kg gain) pada hari ke 42 pada perlakuan antibiotik yang ditambahkan Bio-Mos.
Menurut Samadi (2002) dalam Kartini (2008) bahwa salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan dengan pemberian antibiotik. Antibiotik. dipercaya dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri pathogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan. Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri patogen. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Parks (2006) bahwa ekosistem gastrointestinal unggas merupakan aspek yang sangat penting dalam memperbaiki performans dan kesehatan. Antibiotik meningkatkan performans dengan modifikasi mikroflora saluran cerna, meskipun penggunaannya harus dibatasi. Selain itu, pemberian antibiotik dapat memperbaiki penampilan dari vili-vili usus yang memiliki peranan penting dalam pencernaan yang berfungsi untuk mengabsorpsi zat zat nutrisi bahan pakan.
Menurut Solomons (1978) bahwa penggunaan antibiotik pada pakan ternak memiliki tujuan umum yaitu ; (1) meningkatkan laju pertumbuhan ternak dan efisiensi pakan, mencegah penyakit, dan (3) Pengobatan penyakit. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik di dalam pakan sangat berarti dalam berproduksi.
Pelarangan penggunaan antibiotik di luar negeri (Eropa) sudah lama diterapkan karena dikhawatirkan adanya residu pada produk-produk ternak seperti daging, telur serta susu. Hal tersebut dikemukakan oleh Anonim (2008b) bahwa U.S Agriculture Department melakukan pemeriksaan terhadap daging, unggas, dan produk olahan telur, jarang ditemukan residu pada level yang aman. Selain itu, pelarangan penggunaan antibiotik untuk manusia. pada ternak yang mengakibatkan resistensi kuman pada tubuh manusia apabila mengkonsumsi produk-produk Peternakan.
Beberapa antibiotik yang masih dianjurkan untuk digunakan saat ini sebagai berikut:
1) Bacitracin, virginiamycin, flavomycin, dan nitrovin boleh dijual untuk digunakan pada pakan babi dan unggas tanpa resep dari dokter hewan.
2) Flavomycin dan nitrovin boleh dijual untuk digunakan pakan pedet tanpa resep dokter hewan.
3) Nifursol, sulfaquinoxaline dan sulfanitran boleh digunakan dalam pakan unggas tanpa resep dokter hewan.
4) Segala anti bakterial yang lain digunakan sebagai obat ternak dibatasi hanya pada dokter hewan (Solomons,1978).

Mekanisme Kerja Antibiotik Secara Umum

Antibiotik memiliki cara kerja sebagai bakterisidal (membunuh bakteri secara langsung) atau bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Pada kondisi bakleriostasis, mekanisme pertahanan tubuh inang seperti fagositosis dan produksi antibodi biasanya akan merusak mikroorganisme. Ada beberapa cara kerja antibiotik terhadap bakteri sebagai targetnya, yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat sintesis protein, merusak membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat sintesis metabolit esensial (Naim, 2003).
Menurut Subronto dan Tjahyati (2008), bahwa kematian kuman oleh antibiotik disebabkan oleh karena antibiotik terikat pada dinding sel, membran sel atau pada reseptor di dalam kuman. Hal ini mungkin teajadi karena antibiotik mampu (a) menghambat sintesis dinding sel kuman atau mengubah struktur (susunan) dinding sel, (b) mengganggu fungsi sel membran, dan atau (c) mempengaruhi sintesis protein atau metabolisme asam nukleat.





Gambar 1. Skema Mekanisme Kerja Antibiotik dalam Usus.

Pengaruh Antibiotik Terhadap Pertumbuhan Ternak

Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik. Menurut Sonjaya (2008) bahwa istilah pertumbuhan dapat diterapkan pada sebuah sel, sebuah organ, sebuah jaringan, seekor individu ternak atau satu populasi ternak, definisi sederhana adalah suatu perubahan dalam bentuk/ukuran yang dapat diukur dalam arti panjang, volume atau massa.
Menurut Tillman dkk, (1986) bahwa pertumbuhan pada hewan bermula dari suatu telur yang telah di buahi dan berlanjut sampai dewasa. Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran keaadaan berat yang dilakukan dengan penimbangan berulang-ulang tiap minggu atau tiap waktu lain.
Dalam pertumbuhan, ternak memerlukan zat-zat nutrisi yang baik misalnya ransum yang berkualitas. Ransum merupakan salah satu faktor yang menemukan kecepatan pertumbuhan, oleh karena itu untuk mencapai pertumbuhan yang optimal sesuai dengan potensi genetik diperlukan suatu ransum yang mengandung cukup unsur gizi secara kualitatif dan kuantitatif (Waskito, 1967) dalam (Kartini, 2008). Menurut hasil penelitian Motl et. al., (2005) bahwa combinasi antara antibiotik dan sulfaquinoxaline dalam pakan memberikan efek yang signifikan terhadap mikroorganisme usus halus yang ditunjukkan dengan perhitungan total plate dan signifikan meningkatkan berat badan dan konversi pakan.
Penggunaan antibiotik dalam memicu pertumbuhan broiler merupakan feed additive yang sangat efektif dan efisien. Di Indonesia, penggunaan antibiotik pada ransum broiler tak dapat dielakkan lagi, sebahagian masyarakat peternak broiler menggunakan antibiotik sebagai pemicu pertumbuhan. dan pengendalian penyakit. Apalagi penggunaan bahan baku lokal dapat menurunkan perfomans vili-vili sehingga perlu adanya antibiotik memperbaiki performans vili-vili. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Rofiq (2003) bahwa penggunaan bahan lokal pada pakan ayam broiler masih belum bisa meningkatkan performans vili, sehingga perlu penambahan pakan tambahan (feed additive) yang dapat menunjang pertumbuhan vili usus halus. Struktur vili dipengaruhi oleh jenis pakan yang berbeda. Pakan lokal yang mengandung serat kasar lebih tinggi mengakibatkan luas permukaan lebih rendah sehingga diperlukan usaha lain untuk meningkatkan mutu nutrisi bahan pakan lokal (fisik, kimia ataupun biologi).
Pada penelitian CELIK et. al, (2001), dengan meaggunakan tiga perlakuan yaitu; 1) pakan kontrol - tanpa feed additive; 2) 2 g flavomycin / kg pakan, 3) 0.2 % Saccharomyces cerevisiae / kg pakan. Maka hasil yang didapatkan (Tabel 1.) dari berat badan pada hari 37 (akhir) sangat signifikan pada perlakuan flavomycin dan Saccharomyces cerevisiae (P<0.05)>

Kesimpulan

1. Penggunaan antibiotik sebagai feed additive dalam pakan broiler sangat berperan dalam memicu pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi pakan.
2. Flavomycin dan Bacitracin dapat digunakan sebagai feed additive dalam ransum broiler.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008a. Antibiotik. Web lab. Unggas UGM. (diakses 21 September 2008).

---------, 2008b. Low Level Use of Antibiotic In Livestock and Poultry. Food Marketing Institute. (diakses 13 September 2008).

---------, 2008c. Introduction of Bacitracin Zinc Premix (Supplementation). (diakses 21 September 2008).

---------, 2008d. Bacitracin Zinc Salt. Sigma-Aldrich Co. All Rights Reserved. (diakses 15 Oktober 2008).

Celik Y. Denli K and Ozturkcan O, 2001. The Effect of Sacrkammyces cerevisiae and Flavomycin on Broiler Growth Performance. Pakistan Journal of Biological Science 4 (11): 1415-1417, 2001. (diakses 19 Oktober 2008).

Kartini, 2008. Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Berat Badan, dan Konversi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Hasauddin, Makassar.

Motl M.A, C.A. Fritts, and P.W. Waldroup. 2005. Effect of Intestinal Modification by Antibiotic and Antibacterials on Utilization of Methionine Source by Broiler Chicken. Poultry Science Departement, University of Arkansas, Fayetteville, Arkansas. Poultry Science association, Inc.

Park C.W, J.L, Grinies, P.R Ferket, and A.S Fairchild, 2008. The Case for Mannanoligosaccharides in Poultry Diets. An Alternative to Growth Promotant Antibiotic? (diakses 13 September 2008).

Rofiq, M.N. 2003. Pengaruh Pakan Berbahan Baku Lokal Terhadap Performans Vili Usus Halus Ayam Broiler. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V5. N5, Agustus 2003, hal. 190-194/Humas-BPPT/ANY.

Solomons, I.A, 1978. Antibiotic In Animal Feeds-Human And Aninial Safety Issues. Journal of Aninial Science : 46 : 1360-1368. (diakses 13 September 2008).

Sonjaya, Herry, 2008. Bahan Ajar Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Subronto dan Tjahyati, 2008. Ilmu Penyakit Ternak III (Farmakologi Veteriner). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Waldroup P.W, Rondon E.O, dan Fritts C.A., 2003. Comparison of Bio-Mos and Antibiotic Feeding Progmms in Broiler Diets Containiig Copper Sulfate. International Journal of Poultry Science 2 (1) : 28-31, 2003. (diakses 13 September 2008).

Minggu, 23 November 2008

Asam Fitat Pada Bahan Pakan

ASAM FITAT PADA BIJI-BIJIAN
Abdul Alim Yamin
Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Hasanuddin

PENDAHULUAN
Adanya senyawa anti nutrisi dalam bahan pakan dapat menjadi pembatas dalam penggunaannya dalam ransum, karena senyawa antinutrisi ini akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tergantung dosis yang masuk ke dalam tubuh. Penggunaan bahan pakan yang mengandung antinutrisi harus diolah dulu untuk menurunkan atau menginaktifkan senyawa ini, tetapi perlu dipertimbangkan nilai ekonomis dari pengolahan ini. Beberapa senyawa dapat menghambat penyerapan mineral, seperti konsumsi serat yang berlebih, asam phytat yang terdapat dalam biji-bijian, serta asam oksalat yang terdapat dalam bayam dapat menghambat penyerapan kalsium (Fatimah, 2005).
Asam fitat merupakan zat anti gizi karena mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan mineral yang mengakibatkan kelarutan mineral tersebut menurun, sehingga ketersediaan mineral menjadi rendah.
Asam fitat (mio-inositol heksakisfosfat) merupakan bentuk penyimpanan fosfor yang terbesar pada tanaman serealia dan leguminosa. Dalam biji fitat merupakan sumber fosforus dan inositol utama bagi tanaman, terdapat dalam bentuk garam dengan kalium,kalsium, magnesium, dan logam lain (Avery dan King, 1926). Pada kondisi alami, asam fitat akan membentuk ikatan baik dengan mineral bervalensi dua (Ca, Mg, Fe), maupun protein menjadi senyawa yang sukar larut. Hal ini menyebabkan mineral dan protein tidak dapat diserap tubuh, atau nilai cernanya rendah. Oleh karena itu, asam fitat dianggap sebagai antinutrisi pada bahan pangan.

Gambaran Umum Phytat
Asam fitat merupakan senyawa organik yang terdiri enam senyawa fosfat. Fosfat ini tidak tersedia secara luas pada ternak non ruminansia. Pada ternak ruminansia, bakteri fitase membebaskan ikatan fosfat. Asam phytat dapat membentuk chelate dengan bermacam-macam mineral dan memperoduksi phytat. (Widodo, 2005).
Menurut Cahyohadi (2008) bahwa phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding tanaman seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa pengikat mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk phytat komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Mineral tersebut yaitu Ca, Zn, Cu, Mg dan Fe (Gambar 9.1.) Pada sebagian besar cereal, 60-70 % phosphor terdapat sebagai asam phytat, kecernaan molekul phytat sangat bervariasi dari 0-50 % tergantung bahan makanan dan umur unggas. Unggas muda lebih rendah kemampuan mencerna phytat, tetapi pada unggas dewasa 50%. Kecernaan phytat terjadi karena adanya phytase tanaman atau sintetis phytase dari mikroba usus. Perlakuan panas pada ransum seperti pelleting atau ekstusi tidak terlihat memperbaiki kecernaan pospor- phytat. Asam phtytat merupakan salah satu unsur dari mineral yang dapat mengganggu dalam proses absorpsi kalsium oleh pembentukan senyawa kalsium yang tidak larut.
Mineral merupakan zat nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh ternak khususnya pada ternak yang sedang bertumbuh, yang digunakan dalam pembentukan tulang. Selain itu mineral juga digunakan ternak dalam berproduksi diantaranya produksi susu dan produksi telur (pembentukan kerabang) sehingga mineral mutlak terdapat dalam bahan pakan ternak atau dalam ransum.
Adapun sifat-sifat dari senyawa fitat adalah:
Berperan dalam fungsi fisiologis selama dormansi dan perkecambahan pada biji-bijian.
Melindungi kerusakkan oksidatif pada biji-bijian selama proses penyimpanan.
Menurunkan bioavaibilitas beberapa mineral.
Merupakan antioksidan.
Dapat menurunkan nilai gizi protein karena apabila fitat berikatan dengan protein akan membentuk senyawa kompleks yang mengakibatkan protein menjadi tidak larut (Anonim, 2008).

Tabel 1. Kandungan asam asam phytat pada beberapa bahan pakan.








 
Sumber : Widodo, 2005.

Ketidaklarutan fitat pada beberapa keadaan merupakan salah satu faktor yang secara nutrisional dianggap tidak menguntungkan, karena dengan demikian menjadi sukar diserap tubuh. Dengan adanya perlakuan panas, pH, atau perubahan kekuatan ionik selama pengolahan dapat mengakibatkan terbentuknya garam fitat yang sukar larut. Muchtadi (1998), menyebutkan bahwa asam fitat sangat tahan terhadap pemanasan selama pengolahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk olahan kedelai tanpa fermentasi tetap mengandung asam fitat. Tahap fermentasi dapat mengurangi, bahkan menghilangkan asam fitat, sehingga tempe dan kecap sudah tidak mengandung senyawa tersebut. Tangenjaya (1979), melaporkan bahwa pemanasan pada suhu 100 C, pH 2 selama 24 jam dapat mengurangi kadar fitat sampai dengan 70% (Anonim, 2008).
Peranan fitat dalam kesehatan yang dianggap positif adalah sebagai antioksidan dimana antioksidan dapat berfungsi menangkal adanya radikal bebas maupun senyawa non radikal yang dapat menimbulkan oksidasi pada biomolekuler seperti protein, karbohidrat, lipida, dam lain-lain. Di samping itu, diduga adanya inositol di dalam senyawa fitat dapat dijadikan sebagai sumber energi bagi atlet yang mengkonsumsi minuman suplemen kaya akan fitat. Akan tetapi, dampak negatif bagi kesehatan adalah kemampuannya mengikat mineral dan protein sehingga nilai kecernaannya dalam tubuh menjadi rendah.
Sifat rakhitogenik pada asam fitat disebabkan karena adanya kemampuan membentuk garam yang tidak larut. Menurut Kon et al (1973) dalam (Anonim, 2008), aktivitas rakhitogenik ini dapat dirusak oleh enzim fitase yang umum terdapat pada semua biji-bijian.
Cara Mengurangi Kandungan Phytat
Beberapa senyawa bisa menjadi tidak aktif dengan berbagai proses seperti pencucian, perebusan atau pemanasan. Apabila panas digunakan untuk menginaktifkan senyawa antinutrisi perlu dipertimbangkan agar tidak merubah kualitas nutrisi bahan pakan, tetapi ada beberapa kejadian kalau digunakan panas yang ekstrim bisa juga berperan untuk membentuk senyawa toksik.
Dalam proses penyerapan zat makanan, agar dapat diserap secara keseluruhan proses pemecahan makanan dalam saluran pencernaan harus berlangsung cepat. Jika tidak, maka makanan tersebut hanya lewat saja di saluran pencernaan. Dan terbuang percuma sebagai kotoran. Waktu perjalanan makanan dalam saluran pencernaan dari mulut sampai dibuang dalam bentuk kotoran berkisar hanya 2 jam. Pada ternak unggas satu jam makanan berada dalam usus halus dan melewati villi - villi usus. Dalam hal ini, enzim diyakini dapat berperan dalam mempercepat reaksi perombakan, sehingga fraksi makanan sudah dapat dirombak ke dalam bentuk yang siap diserap sebelum makanan tersebut melewat villi – villi usus halus, hal ini karena enzim memiliki fungsi dasar mempercepat reaksi biokima.
Adapun cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu :
1. Penambahan phytase: kelemahan dari penambahan phytase ke dalam ransum akan menambah biaya ransum dan phytase mudah rusak selama proses pelleting. Sebagiannbesar phytase didenaturasi pada suhu ? 65oC. Sebaiknya enzym phytase ditambahkan0setelah0proses0pengolahan.
2. Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium pospat. Sebagian besar cereal dan suplemen protein nabati relative rendah kandungan phytase kecuali dedak gandum, sedangkan biji yang mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi (Cahyohadi, 2008).
Cara lain yang digunakan dalam melonggarkan ikatan phytat adalah dengan jalan fermentasi dengan menggunakan EM4. Adapun cara lain selain cara di atas adalah dengan perlakuan fisik seperti pemanasan atau perebusan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pangastuti dan Tribowo (1996) bahwa lama waktu perebusan berpengaruh terhadap kadar asam phytat pada kedele dengan perlakuan P 12 (direndam selama 12 jam sebelum direbus) turun dari 1,360% menjadi 1,113%. Untuk P18 (direndam selama 18 jam sebelum direbus) turun dari 1,480% menjadi 1,300% dan untuk Perlakuan 24 jam (direndam selama 24 jam sebelum direbus) turun dari 1,273% menjadi 1,047%. Perebusan biasanya dilakukan dengan suhu 50 – 60 oC yang dapat menurunkan atau melonggarkan ikatan phytat terhadap fosfor.

KESIMPULAN
Asam fitat merupakan senyawa organik yang dapat mengikat fosfor pada suatu tumbuh-tumbuhan diantaranya jagung, dedak dan lain-lain. Sehingga dapat mempengaruhi ketersediaan fosfor dalam suatau bahan pakan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Mengenal Jenis Antinutrisi pada Bahan Pakan. CP Buletin Service. Edisi Desember 2007, Nomor 96/Tahun VIII.

----------, 2008. Perubahan Kandungan Senyawa Fitat Selama Pengolahan. http://www.geocities.com/meteorkita/egdp-fitat.rtf.

Cahyohadi, Susetyo, 2008. Phytat. www. Blogger. com.

Fatimah,0Nur02005.0Sekilas0Tentang0Mineral.0http://www.percikaniman.com/mapi/index 2.php?option=content&do_pdf=1&id=109.

Pangastuti dan Triwibowo, 1996. Pengaruh Lama Perendaman, Perebusan dan Pengukusan Terhadap Kandungan Asam Fitat Dalam Tempe Kedelei. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta PPOM Dirjen POM Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Widodo, Wahyu, 2005. Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak. Universitas Muhammadyah Malang Press, Malang.